cookieChoices = {}; Nunil: Februari 2018

Laman

24 Februari, 2018

Burgerax

Burgerax yang aku tahu di Jogja baru ada di empat tempat, yaitu di samping mall Galeria, samping mall Hartono (belum pernah ke sana, tapi ada spanduknya sih), dekat kafe Sinergi di utara Fakultas Kehutanan UGM, dan di Seven Cemara.

Aku coba burger yang ax aja. Burger termurah di menu itu. Harganya 10 ribu rupiah. Hahaha. Beneran murah, ya?
Pertama coba hanya burger-ax tanpa tambahan apa-apa, kedua kali coba rencananya mau tambah mozzarella, tapi berhubung mozzarellanya habis, jadi nambah red cheddar aja.  Nambah red cheddar atau mozzarellanya hanya nambah 5 ribu rupiah.

Overall burgernya enak! Daging dan lemak-lemaknya kerasa banget. Saus barbekyunya juga mantep banget. Tagar #makanblepotan-nya pas sih. Sausnya banyak dicampur saus keju dan potongan timun dan selada. Kalau yang nggak hati-hati sih emang belepotan makan burger ini. Apalagi makannya lahap kayak aku. Hahahahah.

Berhubung aku cuma coba burger yang ax, mungkin bisa lihat review lain oleh orang lain tentang menu-menu burgernya. Ada di link ini)





ini burger-ax plus red cheddar
Kalau yang lagi bosan makan burger mahal, boleh lah kali-kali cobain burger-ax ini.. atau coba menu premiumnya juga. Hihihi.

Aku juga kepengen cobain menu premiumnya.. .___.

Late Birthday Gift

Sore hari aku ke kosan Vity untuk ngembaliin buku-buku yang kupinjam ke dia, plus nitip untuk balikin buku temannya yang kupinjam lewat dia. Terus tiba-tiba dia kasih ini. 

Lucu banget ya. Ini fotoku yang ada di handphone dia yang... kucel seperti biasa. Rambut lepek, jaket juga kelihatannya itu-itu aja. But I love it so much!
I don't think I deserve this, but thank you so much, Vity! Happy graduation for you! Ku kan segera menyusulmu!

KELANA 2005

KELANA adalah akronim dari kegiatan bernama KonsErvasi dan petuaLAngaN untuk Anak.
(Cerita ini cerita versi lebih lengkap dan lebih panjang dibandingkan cerita yang aku post di tumblr~)

10 years old me.
2005 bisa dibilang sebagai tahun yang penuh petualangan (”sendirian”) di alam. Sendirian di sini maksudnya nggak sama ayah, ibu, apalagi kakak. Walau sebenarnya masih ditemani orang dewasa sih.



Masa kecilku kalau liburan kebanyakan di kebon dan berkemah di kaki gunung halimun bareng keluarga atau sekadar pasang tenda di halaman rumah nenek. Beberapa kali izin nggak sekolah karena diajak ayah ke pantai atau gunung untu berkemah. Aku dan kakak agak takut sih bolos, tapi kaya ayah “ini nggak bolos. Ini belajar di alam bebas.” Memang sih udah nulis surat izin juga. Hahaha. Tapi, beneran deh. Belajar di luar kelas itu juga penting. Bertemu orang baru, pemikiran beda, suasana beda. Penting. Banget. Banget. Banget.
Jalan-jalannya selalu ada-ada aja dan menyenangkan. Lihat penangkaran penyu dan melepas tukik, coba jadi nakhoda kapal Phinisi Nusantara saat ada kesempatan ke pulau seribu, guling-guling di perbukitan di Ciapus bareng Poly (anjing teman ayah yang mati karena diracun orang), metikin daun poh-pohan langsung dari hutannya di Ciapus, mandi di sungai berbatu besar yang sangat bagus walau Poly nggak berani ikut, sok-sokan jadi Sherina di Boscha sambil jenguk ibu yang lagi kuliah di Bandung, dan beberapa kali ke taman nasional Gede-Pangrango sampai pada akhirnya mendaki gunung Gede di tahun 2005.
Tahun 2005 sangat berbeda karena untuk pertama kalinya ke gunung tanpa keluarga. Hanya dengan teman-teman ayah yang kebanyakan pecinta alam. Nama programnya KELANA, Konservasi dan Petualangan untuk Anak. Yel-yelnya saat itu yang paling aku ingat adalah “Salam aiir, Byur byur!” 
KELANA juga punya lagu, tapi lirik yang paling kuhapal hanya
wata watu wati ay ay ay watawa watu watitu ay ay ay
lindungi hewan-hewan di sana, pohon pohon dan berbagai tumbuhan
tidak mencemari airnya, itulah tujuan dalam KELANA
KELANA punya empat rangkaian acara saat itu. Acara pertama, tanggal 26 Juni 2005, pembekalan dan outbond kecil gitu. Seru sih. Anak-anak yang seumuran bahkan ada adik kecil juga ikutan. Semuanya dengan kakak pendamping, nggak sama orang tua. Di situ tapi bapakku ikut jadi kakak pendamping. Manggil ayah sendiri dengan sebutan “Kak” asyik juga loh ngomong-ngomong. Hahahahh! Ayah (seingetku) cuma ikut di acara pembekalan aja. Jadi nggak nemenin di dalam acara dan membimbing adik-adik yang penasaran dengan kegiatan konservasi air dan alam itu. Hehehehe
Acara kedua ‘Konservasi Air’ tanggal 28 Juni 2005. Kami berkumpul di Pintu Air Manggarai untuk naik perahu karet di sungai Ciliwung di Jakarta, ngumpulin sampah penuh belatung yang banyak orang buang ke sungai. Belajar menyayangi air dari kecil juga penting, buat nggak ngebiasain buang sampah sembarangan dan juga buang sampah ke air (apalagi buang kasur ke sungai Ciliwung...). Saat itu padahal sampahnya belum sebanyak sekarang, tapi bau busuknya astaga. Saat itu aku tapi biasa aja ambil sampahnya. Nggak takut belatung atau cacing. Sekarang kenapa ya…
Setelah mengarungi sungai itu, kami ke pabrik penjernihan air bernama Palyja. Di sana ada penyaringan air gitu. Keren banget sih bisa lihat dari air keruh jadi air jernih. 
Acara ketiga, Konservasi Alam, 6-10 Juli 2005. Konservasi Alam ini juga seru banget sih. Mendaki gunung Gede bersama-sama setelah menonton video konservasi di taman nasionalnya. Melewati air terjun yang airnya agak panas. Berteduh karena hujan. Makan superbubur dan mengumpulkan sampah-sampah di sepanjang pendakian. Mencium bau kentut di puncak, yang ternyata adalah bau belerang. Turun ke alun-alun Suryakencana sambil perosotan di tanah karena jalannya yang empuk dan enak buat seluncuran. Sampai di alun-alun Suryakencana nggak langsung istirahat tapi lari-larian kayak anak kecil kebanyakan gula, atau kayak anjing yang udah lama di kandang terus dilepas ke alam bebas. Maklum, baru pertama kali lihat bunga edelweiss secara langsung. Aku tertib, kok. Nggak metik bunga itu. Kasihan... Berhubung suka banget sama film The Sound of Music, sambil lari-lari aku nyanyi lagu Edelweiss. Salah satu momen terbahagia yang nggak bisa dilupakan seumur hidup! Setelah itu tidur di alun-alun Suryakencana yang banyak edelweiss-nya, tidurnya diselimutin jutaan bintang yang nggak kehalang lampu-lampu kota, ngerasain dinginnya sampai-sampai dobel sleeping bag dan mencoba jadi kepompong biar hangat.
Di acara ketiga itu, aku sekelompok dengan Kak Fildza dan Akmal, didampingi oleh Kak Lana dan Kak Helse. Idola banget deh mereka. Kami saling bantu dan kompak banget saat itu. Sayangnya aku sudah nggak punya kontak mereka lagi. Ah ya.. mungkin sudah pada lupa...
Pulang dari pendakian, kami turun melalui desa-desa gitu. agak gerimis sih. Tapi senang. Sepanjang jalan kami ngobrol. Slayerku penuh dengan tanda tangan seluruh peserta KELANA. Sayangnya slayer itu hilang... Sedih banget. Mana belum sempat aku foto..
Acara keempat adalah “Kampanye Konservasi-Celoteh Anak Peduli Alam” yang diselenggarakan di Pasar Festival Jakarta tanggal 31 Juli 2005. Di sana pertama kalinya ku nonton NAIF gratisan. Nyihihihi. Acaranya ada pameran gambar yang kami buat tentang alam dan air, dongeng, baca puisi, berbagi cerita, talkshow juga.... tapi yang kuingat penampilan dongeng dan NAIF aja. HAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAH dasar anak-anak. Kayaknya dulu aku ikutan tampil sesuatu.. tapi lupa apa. Hahahahha. Pikun :(

Dan ini adalah foto-foto kegiatan di acara ketiga yang aku ambil dari album foto teman ayah di facebook.

sebelum berangkat

indomie nikmat dalam perjalanan mendaki pertama tanpa keluarga
Akmal- Nunil


bersama-sama di Alun-alun Surya Kencana

ada permainan juga loh di alun-alun Suryakencananya. Aku yang berbaju biru dengan slayer hijau di pinggang, di sebelah Kak Helse yang pakai kupluk dan Fildza yang berjaket merah.

Teman sekelompok




bisa temukan aku? hahaha. si kupluk memegang gelas!


(belakang-depan)
Nunil-Akmal-Amza

Kak Lana dan Nunil, Kak Helse dan Filza, Kak..... dan Dania


menggambar bersama Fildza, Kak Helse, Akmal
Meski suka banget lari-larian dan mendaki dan kegiatan alam lainnya, ayah nggak ngebolehin aku ikut pecinta alam kalau nggak dengan teman-teman ayah. Jadi... itulah sebabnya saat SD ikutan ekskulnya renang dan KIR, SMP juga KIR dan Peer Counselor, dan SMA.... CAPOEIRA! hahahah setidaknya agak mending ketika SMA dan SD, ada olahraganya. Hahahahah

12 Februari, 2018

23yo.

I've been here (in this blog) almost 10 years.

I've been in this world 23 now.

Tahun lalu nggak bikin postingan apa-apa tentang ulang tahun. Biasanya, akan sangat menyenangkan jika banyak ucapan, banyak hadiah, banyak doa, dan memanjakan diri dengan membeli makan enak untuk merayakannya.
Tahun ini lebih tenang. Tahun lalu, aku dan Mas Dheo memanjakan diri dengan makan sushi. Tahun ini, meski memang ada uangnya, tapi.. ngerasa nggak bijak aja kalau membelanjakan hanya untuk kesenangan perut dan lidah. Kata kakek, "Rasa hanya sepanjang lidah". Kalau sudah tertelan, toh diolah dan menjadi kotoran. Jadi... makanan apa pun disyukuri. Bersyukur karena masih bisa makan teratur.

Biasanya selalu ingin makan enak di hari spesial. Mungkin Tio Ciu Hot Plate, Loving Hut, Nanamia Pizzeria, atau apa pun yang jarang dimakan dan harganya agak….bikin menyesal setelah menikmati makanannya.
Semenjak pindah ke Jogja dan sering masak sediri, Olive Fried Chicken adalah makanan yang sangat mewah. 10 ribu rupiah dapat paha atas dan nasi dan es teh manis. Pulang dari Olive beli tahu walik Om Ta, lalu mlipir ke tempat Lek San, berharap beliau sudah mulai jualan lagi semenjak ayahnya meninggal. Bersyukur banget Lek San ada, walau kami datang terlalu cepat sampai menunggu lama sate tutut dan ternyata ngga datang… :“
Terus jadi ingin makam terong kubis plus es teh tawar di Mas Kobis. Emang ya, makanan jahat biasanya sangat enak penuh minyak dan lemak…..

Postinganku dari blog sebelah. Tahun ini menyenangkan karena bisa banyak bersyukur untuk hal-hal kecil yang sering terlupakan untuk disyukuri. I think I feel contented for my birthday this year. No candles, no sweets, but having so much sweet moments.
Mempunyai blog dan menulis, kemudian melihat betapa berubahnya pola pikir saya membuat saya menjadi.........wow. 
I feel so glad I know you, Mas Dheo.

08 Februari, 2018

Pasar Kangen Yogyakarta 2017

*super late post*


Pertengahan tahun lalu, aku dan Mas Dheo ke Pasar Kangen Yogyakarta 2017! Di sana ada berbagai jajanan masa kecil (yang sebagian besar belum aku tahu) yang enak-enak.

Ada es serut yang dipadatkan dengan cetakan, dikasih stik es krim, dan dituang sirup tiga rasa! Segar juga!
Es dengan sirup tiga rasa
Ada juga lempeng juruh. Ini pertama kalinya aku makan lempeng juruh. Ini adalah lempeng dengan saus gula jawa plus jahe dan sereh. Enak banget! Hanya 3000 rupiah! Sampai bolak balik beli lempeng juruhnya. Wiiiihh. 
Lempeng Juruh

ini stand-stand jualannya. Saat itu matahari terik banget!

gulali!
 Tiba-tiba menemukan jajanan yang bahkan di Bogor sudah jarang, yaitu rujak bèbèk.  Rujaknya enak banget, meski rada keasinan dan nggak pakai lobi-lobi. But still, ini cukup mengobati rindu..
rujak bèbèk khas Jawa Barat (?)
Ada tempe benguk seporsi 5000 rupiah tapi bisa pesan hanya 2500 rupiah (bagi yang nggak yakin sama rasanya,dan ternyata bikin nagih!)

suka banget sama gambarnya

tempe benguk
 dan all time favorite adalah sate kere! Tapi nggak bisa makan sate ini banyak-banyak dan ketika sudah dingin. Rasanya bakal beda! Hihihi. Ini dari gajih. Buat yang nggak suka gajih, mending jangan makan. Buat yang suka gajih, kalau makan jangan kebanyakan, ya! Nggak terlalu sehat, kan...

sate kere/ sate cethak dari gajih sapi (?)


-Nunil-

Air Terjun bareng Luge, Nona, Mas Matthew, Mas Anto, dan Aaron

 Tahun lalu, kebetulan mendapat teman dari Singapore bernama Mas Matthew. Dia sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Tapi.. dia lebih jago bahasa Korea sampai kukira dia sudah lama tinggal di Korea. Logatnya pun.... hahahaha. Mungkin karena pacarnya juga orang Korea yaa..

Ada trip lagi dengan Mas Matthew bareng Mas Anto, Aaron (anak Mas Anto), Luge, Nona ke sebuah air terjun (yang sekarang aku lupa nama air terjun itu). Sebelum ke air terjun, kami ke museum Pak Harto sebentar. Setelah itu makan soto! Hihihi
Air terjun namanya apa ya... huhuhu.. Mungkin karena kami ke sana dekat musim kemarau jadi airnya nggak terlalu banyak. Tapi senangnya adalah di bawah ada danau kecil untuk berenang. Aku dan Luge nggak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk basah-basahan! Sayangnya waktu itu lupa bawa baju ganti. Hahahahhahah!



 

Kalibiru dan Kedung Pedut #TripwithKNB

Sekitar dua tahun lalu (eh? Selama itu kah ini ada di draft saya?) saya mendapat teman dari Tanzania bernama Andeshi melalui program KNB. Di sana ada juga Mbak Mei dari Thailand, Mas Ati dari Timor Leste, dan beberapa teman lain dari berbagai negara. Suatu hari ada acara jalan-jalan dengan mereka ke wisata Kali Biru dan air terjun Kedung Pedut.

Ini pertama kalinya naik Jeep bukan dengan keluarga! Hahahaha
Seneng banget sih bisa trip gratis dengan teman-teman dari program KNB juga Mas Riyan dan Mbak Sheila.

Naik Jeep







di Kedung Pedut

Ketika pulang, kami juga coba makan buah cokelat. Ada yang bawa gitu mbah-mbah. Waah... pertama kalinya coba buahnya.