Sore ini, bulir air mata mengalir dari pipimu. Biasanya, kamu selalu bercerita hal yang menyenangkan padaku. Entah mengapa, kini kamu menghampiriku dengan tangisan itu. Kamu menghampiriku dengan tersedu. Jujur, aku belum pernah melihatmu sedih, terlebih menangis. Ingin aku menempatkan tanganku di pipimu, mengusir bulir air matamu, juga kesedihanmu.
"Aku nggak bisa bilang, nggak. Semuanya bergantung sama aku. Semuanya aku yang ngerjain, aku yang beli, aku yang ngurusin. Semuanya mengandalkan aku. Kalau kayak gini, aku mau bergantung sama siapa?" katamu, tersedu di sampingku.
Saat itu aku hanya bisa tersentak, lalu diam. Tak pernah menyangka bahwa kamu, si gadis yang setiap saat ceria, mempunyai masalah juga. Kamu, yang selama ini kukagumi karena kemandirian dan keceriaanmu, bisa juga meneteskan air mata. Kamu, yang biasanya lincah dan tertawa setiap saat, kini terlihat begitu rapuh disisiku. Ingin rasanya merengkuhmu, memelukmu, memberi rasa aman dan nyaman padamu, lalu berkata, "Ada aku. Kamu akan baik-baik saja" Namun, bagaimana caranya?
Kamu justru makin tersedu saat kamu bercerita semuanya padaku. Air matamu jatuh ke pangkuanku. Kamu bercerita tentang dia, yang membuatmu semakin menangis. Dia, seorang kenalan yang tak mengerti tentangmu, tiba-tiba saja mengkritik dengan nada hinaan. Memang aku tahu bahwa kamu terlalu sensitif, namun sorot matamu tak pernah sesakit sore ini. Ingin rasanya aku menghiburmu dengan kata-kata penyemangat. Namun, apa dayaku?
Semakin lama, tangisanmu semakin deras. Semakin banyak pula tetesan air matamu pada tubuh ini. Tiba-tiba kamu berhenti bercerita. Kamu meraih tubuhku, dan merobekku dengan geram. Meremasku hingga menjadi sebuah bola. Melemparku ke dalam tempat sampah. Menghela napas dengan lebih tenang.
Aku rela. Aku rela kamu membuangku seperti ini, asalkan itu bisa menghapus kesedihanmu. Tetaplah ceria, kamu yang disana. Dengan tersenyum simpul, kamu meraih telepon genggammu. Berbicara entah dengan siapa. Nada bicaramu mulai terdengar riang. Kamu pun bergegas memilih pakaian paling indah, lalu berganti baju dengan semangat. Kamu pun pergi meninggalkanku yang berada dalam tumpukan sampah, bersama benda-benda tak berguna lainnya.
Hati-hati kamu yang disana. Semoga kesedihan selalu enggan menghampirimu. Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu.
Salam sayang,
Your Kitty