cookieChoices = {}; Nunil: fiksi

Laman

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

26 September, 2013

Kamu, Sore Ini

     Kamu terlihat begitu atraktif. Lincah, bergerak kesana kemari sesukamu, layaknya kucing kecil yang disodorkan benang wol di depannya. Ceria, tanpa sedikit kesedihan dari sorot matamu. Blak-blakan apa adanya. Senyumanmu pun memiliki daya tarik sendiri.
     Sore ini, bulir air mata mengalir dari pipimu.  Biasanya, kamu selalu bercerita hal yang menyenangkan padaku. Entah mengapa, kini kamu menghampiriku dengan tangisan itu. Kamu menghampiriku dengan tersedu. Jujur, aku belum pernah melihatmu sedih, terlebih menangis. Ingin aku menempatkan tanganku di pipimu, mengusir bulir air matamu, juga kesedihanmu.
     "Aku nggak bisa bilang, nggak. Semuanya bergantung sama aku. Semuanya aku yang ngerjain, aku yang beli, aku yang ngurusin. Semuanya mengandalkan aku. Kalau kayak gini, aku mau bergantung sama siapa?" katamu, tersedu di sampingku.
     Saat itu aku hanya bisa tersentak, lalu diam. Tak pernah menyangka bahwa kamu, si gadis yang setiap saat ceria, mempunyai masalah juga. Kamu, yang selama ini kukagumi karena kemandirian dan keceriaanmu, bisa juga meneteskan air mata. Kamu, yang biasanya lincah dan tertawa setiap saat, kini terlihat begitu rapuh disisiku. Ingin rasanya merengkuhmu, memelukmu, memberi rasa aman dan nyaman padamu, lalu berkata, "Ada aku. Kamu akan baik-baik saja" Namun, bagaimana caranya?
     Kamu justru makin tersedu saat kamu bercerita semuanya padaku. Air matamu jatuh ke pangkuanku. Kamu bercerita tentang dia, yang membuatmu semakin menangis. Dia, seorang kenalan yang tak mengerti tentangmu, tiba-tiba saja mengkritik dengan nada hinaan. Memang aku tahu bahwa kamu terlalu sensitif, namun sorot matamu tak pernah sesakit sore ini. Ingin rasanya aku menghiburmu dengan kata-kata penyemangat. Namun, apa dayaku?
     Semakin lama, tangisanmu semakin deras. Semakin banyak pula tetesan air matamu pada tubuh ini. Tiba-tiba kamu berhenti bercerita. Kamu meraih tubuhku, dan merobekku dengan geram. Meremasku hingga menjadi sebuah bola. Melemparku ke dalam tempat sampah. Menghela napas dengan lebih tenang.
     Aku rela. Aku rela kamu membuangku seperti ini, asalkan itu bisa menghapus kesedihanmu. Tetaplah ceria, kamu yang disana. Dengan tersenyum simpul, kamu meraih telepon genggammu. Berbicara entah dengan siapa. Nada bicaramu mulai terdengar riang. Kamu pun bergegas memilih pakaian paling indah, lalu berganti baju dengan semangat. Kamu pun pergi meninggalkanku yang berada dalam tumpukan sampah, bersama benda-benda tak berguna lainnya.
     Hati-hati kamu yang disana. Semoga kesedihan selalu enggan menghampirimu. Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu.

Salam sayang, 
Your Kitty

09 Oktober, 2011

#15harimenulisdiblog #10 #hadiah

Pagi ini aku bersiap lebih awal.
Ini adalah hari spesial bagiku dan dia.
Sudah kupersiapkan hari ini dari jauh hari.
Kusisir rambutku dan kuatur serapi mungkin.
Aku ingin hari ini tak ada cela.
Aku ingin semuanya sempurna.
Kubuka laciku, dan kuraih pita merah jambu dari dalamnya.
Kuikat pita itu melewati kepala.
Kujadikan pita itu sebagai bando.
Aku berkaca.
Lucu sekali gadis dalam kaca itu.
Kepala bulatnya dihiasi pita merah jambu.
Bel berbunyi.
Aih ada yang datang.
Kubuka pintu perlahan.
Ternyata dia yang datang.
Dia datang dengan sebuket bunga.
"Happy 1st Anniversary, sayaang" ujarnya.
Aku tersenyum seraya tersipu malu.
Lalu aku teringat pada hadiah yang telah kusiapkan.
"Aku punya hadiah buat kamu" ujarku.
"Apa itu?" tanyanya.
"Gadis kecil dengan pita merah jambu" ujarku pelan.
Dia lalu melirik ke arah kepalaku.
Dia melihat pita merah jambu itu.
Lalu ia tersenyum pelan dan merangkulku.
"Kamu itu hadiah terindah dari Tuhan buat aku. Jangan pergi ya, sayang.."